RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Kau bukan temanku!

Salah satu indikator kesejahteraan anak usia dini (0-8 tahun) adalah mempunyai teman, paling tidak seorang saja. Indikator ini menerangkan perkembangan sosial-emosional anak, terutama kemampuan interaksi sosial anak-anak di lingkungannya. Namun jika anak tidak mendapat teman di lingkungannya, mungkin perlu pula melihat bagaimana pola hubungan kekuasaan antara anak itu dengan orang lain sebayanya. Seorang anak bisa jadi tidak mendapat teman karena mengalami pengucilan oleh anak-anak lain di sana, karena alasan keberagaman. Sebut saja Bunga, nama samaran, dia setiap harinya ada di penitipan anak  di Jogjakarta.  Salah seorang anak di sana yang umurnya lebih tua mempengaruhi anak yang lain untuk menjauhi Bunga, karena ”Rambutnya bulat-bulat,”  jelas anak itu tentang bunga. Kebetulan Bunga memang berambut keriting.  

Di sekolah yang lain, masih di Jogjakarta, ada anak Indo-Belanda yang mogok sekolah karena ketika pelajaran guru cerita tentang penjajahan. Salah satu anak kemudian menyebutnya ”penjajah”, dan diikuti tertawaan anak-anak yang lainnya. Si anak Indo-Belanda ini tentu saja tersinggung dan akhirnya tak mau ke sekolah.

Sikap ”rasis” pada anak bukanlah hal yang mustahil. Rasis adalah sikap merendahkan kelompok diluar ras sendiri. Ras di sini bisa berarti warna kulit, bentuk rambut, latar belakang suku, latar belakang agama, latar belakang kelas sosial dst. Anak telah mulai menyerap konsep siapa dirinya, bagian dari kelompok mana, dan siapa bukan kelompoknya sejak usia 3-4 tahun. Jika anda punya anak usia ini, coba tanya apa pendapatnya tentang siapa kawannya dan bukan kawannya. Mungkin jawabannya di luar dugaan anda.

Riset di lingkungan pusat pendidikan anak usia dini (PPAUD) membuktikan bahwa anak menyerap konsep tentang kelompok mana yang lebih favorit dan tidak di masyarakat mereka. Jika anak mengadopsi konsep ini, dia akan memakainya untuk menyeleksi teman-temannya.  Jika dia merasa bagian dari kelompok favorit di masyarakatnya, mungkin dia akan merasa superior di depan kelompok bukan favorit. Jika dia bagian dari kelompok bukan favorit dia akan merasa inferior di depan kelompok favorit. Perasaan dan pemikiran anak-anak tentang diri dan orang lain, karena itu, mencerminkan situasi hubungan sosial antar kelompok dalam masyarakat.

Perubahan menuju masyarakat yang lebih adil memerlukan kepedulian mendengarkan suara anak-anak, agar kita semua berefleksi terhadap apa yang telah kita lakukan selama ini; apakah kita berkontribusi terhadap keadilan dan perdamaian atau malah justru terhadap memanaskan konflik yang berbasis kebencian terhadap kelompok lain. Setelah itu mengajarkan nilai keadilan kepada anak-anak melalui modeling hubungan sosial yang lebih adil dengan orang lain, terutama anak-anak. Hanya dengan mengalami diperlakukan adil itulah anak akan menjadi pejuang keadilan!

 

Jakarta - Amsterdam – Jogja – Maumere, Mei 2011

(SM)

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter