RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Saya mau bercerai...!

Saya mau bercerai. Titik. Meski dia sekarang sudah rutin mengirim nafkah untuk anak, tapi hati saya sudah mati. Pernyataan seorang kawan di suatu pagi. Saya tidak mencoba menentangnya, bahkan saya merasa tidak perlu membacanya ketika dia menyodorkan tiga lembar alasan tertulis untuk gugatannya terhadap suaminya. Kalau dia sudah memutuskan, mengapa saya harus mencegahnya? Siapa yang tahu mana yang lebih baik baginya?

Saya bilang, teruskan langkah kalau ini sudah keputusan yang mantap. Hanya tiga hal yang perlu dipersiapkan; biaya di pengadilan, termasuk biaya non material ketika suami dan saksi-saksinya juga akan menguliti aibmu untuk membuatmu kehilangan harga diri dan berbalik tersiksa dengan rasa bersalah karena menggugatnya.

Yang kedua, siapkan kesabaranmu karena proses ini akan lama ketika suami tidak mau diceraikan sehingga hakim akan mendorong kalian mencoba jalan rujuk dulu. Tapi kalau kau berketetapan berpisah, maka siapkan yang ketiga, perasaan kosong karena peralihan status.

Ketika memberikan pandangan itu, sebenarnya  bukan berarti saya menentang niatnya bercerai. Namun saya perlu mengatakan seperti itu karena mengingat pengalaman beberapa teman yang melakukan gugat cerai, namun menangis berkepanjangan setelah keinginannya tercapai. Beberapa kawan dari pendamping hukum juga menceritakan kebingungan akan sikap klien yang seperti ini yang menyisakan beban rasa bersalah setelah membantu proses di pengadilan. Para pendamping ini awalnya berpikir bahwa keputusan itu akan membahagiakan kliennya, namun ternyata tidak selalu begitu.  Tidak semua istri yang minta perceraian ternyata siap dengan status barunya itu. Mereka tidak minta suaminya kembali, namun mereka dilanda krisis yang hebat menerima kenyataan bahwa kini mereka harus berdiri di kaki sendiri untuk semua urusan dirinya dan rumah tangganya. Bagaimanapun jeleknya hubungan di antara pasanga, perkawinan yang telah berlansung lama telah menciptakan ketergantungan kepada pasangan secara  disadari/tidak disadari.

Bagi para istri yang sejak kecil mengembangkan keyakinan diri bahwa dia ada karena suaminya, tentu krisis perceraian akan makin berat. Identitasnya seperti hancur karena perceraian itu. Mereka sangat perlu bantuan untuk menyusun kembali gambaran tentang siapa dirinya dan misi pribadinya secara lebih mandiri.

Pada posisi sebagai konselor, tugas saya memang tidak memberikan solusi, tapi hanya membantu mereka mengenali bagaimana mereka mamandang masalah dan memperlihatkan akibat dari pilihan-pilihan. Posisi netral yang berat. Bagaimanapun saya percaya bahwa setiap klien mampu meraih kehidupan yang lebih baik, dan dengan bantuan doa kepada Tuhan mereka masing-masing niscaya itu akan terjadi.

Setiap kali menyelesaikan konseling, inilah bayaran yang saya terima: sebuah ilmu pentingnya siap menghadapi krisis yang tidak diinginkan, mulai dari bagaimana memandang krisis dan membuat respon terhadap krisis dengan setepat-tepatnya. Hidup cuma sekali…

 

(SM)

Jogja, 16 April 2011

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter