RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Gak rugi memberdayakan anak perempuan!

Adalah Ika (19), pemudi Indonesia, memecah rekor pertama kalinya bicara dalam forum UNCSW (United Nation Commission on Status of Women) memberikan kesaksian tentang kekerasan yang dialami anak-anak perempuan sebayanya. Ika yang sejak SMP telah bergabung dalam ormas KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) terlibat aktif dalam pendampingan komunitas anak perempuan yang rentan. Salah satu yang ditemuinya adalah Rosa.

Rosa dipungut oleh sebuah keluarga sederhana. Ibu angkatnya seorang pedagang di pasar dan ayahnya pengangguran. Parahnya, ayahnya juga seorang penjudi dan peminum. Ketika ibunya meninggal, ayahnya menjual Rosa kepada teman-temannya sebagai pemuas nafsu seksual. Dari pekerjaan itu mereka mendapat uang untuk hidup. Rosa kemudian menikah dengan pacarnya, tapi keluarga pacar sangat kasar kepadanya karena dia pernah menjadi pekerja seks.

Dalam pidatonya di depan para negara anggota UNCSW, Ika melihat perbedaannya dari Rosa. Dia melihat Rosa sebagai korban yang hanya bisa memilih yang lebih baik kalau ada penolong dari luar. Rosa berada dalam lingkungan yang sangat melemahkan dirinya, sehingga harga dirinya sangat kurang yang berakibat pada kurangnya daya untuk melawan keadaan. Sementara itu, Ika merasa beruntung karena selalu mendapat dukungan dari ibunya untuk menjadi anak yang maju. Selain itu dia didukung oleh KPI (kerjasama dengan Plan Indonesia) untuk mendapatkan pengetahuan tentang hak-hak sebagai manusia dan fasilitasi menyelesaikan masalah dalam situasi sulit.

Ika melihat bahwa sekolah tidak cukup. Bahkan sekolah mengancam dan menjadi sumber stres bagi anak, terutama ketika anak dalam situasi sulit. Ika menuturkan, ketika Rosa hamil, dia cepat putus asa dan mengambil langkah mundur dari sekolah, seolah dia tahu pasti bahwa sekolah hanya berpihak pada anak-anak yang beruntung. Anak yang hamil cenderung dianggap tidak bermoral dan mencoreng nama baik sekolah.

Melihat gejala ini, Ika berpikir perlunya sekolah berubah, menjadi berperan aktif seperti KPI melakukan kepada anak-anak perempuan sebayanya dalam menanamkan kesadaran tentang hak dan membuat pilihan yang sehat untuk masa depannya. Dia merekomendasikan negara-negara untuk membangun kurikulum di sekolah yang meningkatkan karakter anak perempuan, terutama karakter yang membantu mereka sendiri melawan kekerasan.

Ika adalah fenomena. Kecerdasan Ika tidak lepas dari mentornya, yaitu ibunya dan para fasilitator perempuan dari KPI. Jadi tidak rugi kan mendidik anak perempuan? Mereka kelak akan menjadi mentor untuk generasi anak perempuan berikutnya! (SM)

 

(Oleh-oleh dari 55th session UNCSW New York, 25 Februari 2011)

 

 

 

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter