RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Susahnya menanam pohon

Obralan bibit pohon trembesi yang dipromosikan untuk meredam emisi karbon ternyata kurang laku rupanya. Salah satu tindak lanjut mengurangi global warming dengan menanam pohon secara besar-besaran menghadapi kendala tempat penanaman. Idealnya, konon, trembesi ditanam di pinggir jalan raya sehingga polusi dari kendaraan bermotor langsung terserap, sekaligus kanopi trembesi yang seperti payung akan meneduhkan jalan-jalan itu. Karena itu jutaan bibit trembesi telah diproduksi, bahkan halaman rumah Presiden SBY di Cikeas pun dipenuhi bibit tembesi yang siap disebarkan ke seluruh nusantara.

Di Singapura trembesi berperan dominan menghijaukan Negara kota itu, sehingga kota ini menjadi teduh dan indah. Hampir seluruh sisi jalan raya di sana ditanami pohon trembesi sejak periode PM Lee Kwan Yew. Jadi sekarang orang sudah dapat menikmati manfaatnya. Indonesia rupanya terinspirasi oleh Singapura, sehingga Presiden SBY ikut turun untuk kampanye penanaman trembesi.

Sebuah ide bagus kalau muncul di Indonesia memang menghasilkan kontroversi dan politisasi. Nyatanya ide menanam trembesi tidak langsung ditanggapi oleh para pemimpin di daerah. Alasannya adalah tidak ada lahan untuk trembesi yang berkanopi besar dan tingginya bisa mengganggu kabel-kabel listrik dan telepon, atau akarnya bisa merusak aspal jalan. Alasan itu meskipun masih asumsi nyatanya sudah membatalkan penanaman banyak bibit trembesi. Itulah mengapa sekarang pembagian bibit gratis trembesi pun tidak dilirik orang. Anehnya, bibit pohon jenis lain juga tidak ditanam di ruang-ruang yang berpolusi!

Leadership para pejabat politik di seluruh nusantara mungkin tidak terpanggil karena masa tumbuh trembesi melebihi masa jabatan mereka, sehingga para pejabat mungkin merasa rugi untuk investasi. Memang belum tentu juga penerus mereka tidak menebang pohon yang ditanam, bukan karena mereka tidak suka pohon tapi karena mereka mengutamakan kepentingan yang lain.

Fenomena terbengkalainya jutaan bibit trembesi adalah fenomena perang kepentingan di republik ini. Terlalu banyak kepala, terlalu banyak ide, terlalu sulit membela visi bangsa, terlalu sulit mengalahkan kepentingan sendiri dan kelompok…. Kata Agnes Monica, “Teruskanlah, teruskanlah…kau begitu… !”

Karena kita tidak goblok, namun karena kita warga bumi yang baik, tetaplah membibit tanaman apa saja karena hari ini saat terbaik untuk menanam atau memelihara yang telah kita tanam. (SM)

  

Jogja, 12 Maret 2011

terinspirasi oleh presentasi pak Andi Gappa dari CSR Panin Bank

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter