RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Anak dan bullying: ayo becermin

Setelah didesak berkali-kali akhirnya anak saya (laki-laki, 7 tahun) waktu itu mengakui bahwa bilur-bilur di kakinya karena ditendang temannya sekelas. Agak panas juga hati saya mendapati anak menjadi korban bullying. Tetapi yang lebih menarik perhatian saya adalah alasan dia tidak mau mengaku; apakah dia takut?

Saya: Kenapa nggak bilang?

Anak: Nggak pa-pa

S: Kamu tidak ingin membalas ketika ditendang?

A: (menggeleng) Gini lho Bu, kalau aku membalas nanti dia akan lapor ibunya! Aku nggak mau bikin masalah…Kalau ibunye marah padaku gimana?! (akhirnya keluar penjelasannya setelah di desak).

S: Kan kamu bisa lapor ibumu juga?

A: Tapi ibuku kan nggak pernah menungguiku di sekolah!

Dari dialog itu kita bisa analisis bahwa setiap anak punya pengetahuan (konsep) tentang perilaku. Anak saya jelas tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap orang lain. Dia juga tahu kalau ada orang lain menyerangnya, maka dia harus menanggapi sebaik-baiknya supaya tidak menimbulkan masalah berkepanjangan. Artinya, anak juga menganalisis situasi, kekuatan dirinya dan lawannya. Dia memutuskan tidak membalas karena temannya ditunggui ibunya. Aneh juga dia menganggap ibu lawannya akan ikut melawannya. Mungkin dia melihat contoh ini di dalam masyarakat kita. Tapi dia tidak yakin akan dibela ibunya sendiri… Bagian ini seperti memberi pesan bahwa sebagai ibunya saya kurang dapat diandalkan sebagai pelindung!

Selama dua tahun saya mengamati anak saya ini tetap tidak membalas kalau diperlakukan kasar oleh teman-temannya, meskipun perlakukan itu dilakukan di rumah kami. Teman bermainnya cukup banyak di rumah, dan suatu kali ada seorang tetangga melaporkan kecenderungan mengalah pada anak saya ketika diperlakukan kasar oleh temannya. Apakah dia miskonsepsi tentang hak bela diri? Saya tidak cukup info soal ini, tetapi ada fakta lain bahwa anak saya ini punya kemampuan sosial cukup bagus. Temannya banyak dan awet. Di sisi lain memang ada fakta dia kurang berani berkata tidak, terutama kepada teman sebayanya.

Memang dia perlu penguatan self esteem…Cuma kadang-kadang saya melihat dalam hidup saya selama ini, menjadi low profile adalah strategi komunikasi efektif di dalam masyarakat komunal di tempat kami tinggal. Mungkin anak saya justru telah “membaca” situasi sosio-kultural ini sehingga menjadi lebih bijaksana daripada orang dewasa yang punya pendirian bahwa kekerasan harus dilawan dengan kekerasan. Entahlah. (SM)

 

Jogja, 10 Maret 2011

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter