RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Pelangi Di Ujung Wailiti

Wailiti adalah sebuah desa di Kabupten Sikka, posisinya ada di pinggir laut Flores pada sisi yang tepat bersebrangan dengan Makassar. Suatu pagi yang indah, dari dek resort tempat kami menginap, saya melihat pelangi yang satu kakinya masuk desa ini. Kehadiran pelangi seolah memberitahukan kalau cuaca akan kembali cerah setelah beberapa hari sebelumnya hujan dan angin menerpa daerah itu.

Menginjak Flores pertama kali saya masih membawa asumsi perlunya belajar bahasa local agar saya bisa berkomunikasi. Dari literatur saya membaca beragamnya etnis yang ada di Flores dengan ciri perbedaan bahasa yang dimiliki masing-masing. Itulah mengapa ada motivasi untuk belajar bahasa local.

Asumsi itu masih ada namun motivasi agak mengendur langsung ketika melihat kenyataan penguasaan bahasa Indonesia yang bagus pada masyarakat Flores. Bahkan menurut teman-teman yang telah bekerja di pelosok-pelosok Flores, bahasa Indonesia dipakai oleh warga desa ketika mereka berkomunikasi dengan warga desa lain atau orang luar. Fenomena ini ada karena bahasa Indonesia sangat berfungsi menjembatani perbedaan bahasa yang sangat beragam di daerah itu. Tentulah tidak mudah bagi warga jika harus menguasai semua bahasa yang ada di pulau Flores. Dengan menguasai satu bahasa yaitu bahasa Indonesia, komunikasi antar kelompok menjadi lebih mudah.

Pelangi di ujung Wailiti di pagi itu membuat saya dibukakan tentang keindahan lainnya dari kehidupan di bumi pertiwi. Hati saya meluap, untung ada bahasa nasional! Tahun 1928, tahun Sumpah Pemuda pertama dilakukan, sungguh berdampak luar biasa positifnya untuk bangsa ini hingga sekarang. Kita punya metodologi dalam menyelesaikan perbedaan di antara kita,  yakni inisiatif bersatu dengan membangun alat-alat perekat, salah satunya adalah bahasa nasional.

Perasaan bersyukur akan bahasa nasional Indonesia yang kita miliki seperti menghapus keraguan akan perlunya menyatukan diri dalam Negara Indonesia. Keraguan ini sering muncul ketika konflik berbasis SARA meletus dan pihak Negara membiarkannya, seperti ketika minggu yang lalu ada kelompok-kelompok tertentu yang membantai kelompok Ahmadiyah di Banten dan merusak gereja di Temanggung. Kata Yenny Wahid, untuk apa kita bernegara kalau kelompok-kelompok dalam masyarakat ada yang seenaknya sendiri mengganggu kelompok yang lain?

Sekali lagi, pelangi memang selalu indah, dan semoga dia akan selalu menghampiri kita di sepanjang Nusantara untuk mengingatkan tekad persatuan yang telah kita sumpahkan bersama. (SM)

 

Wailiti, Sikka, 9 Februari 2011

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter