RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Malu-ku Untuk Yang Satu Ini!

Cuapek rasanya … Untuk satu hal ini, saya sering malu jadi orang Indonesia: kebiasaan orang Indonesia ngobrol sendiri ketika dalam forum. Semakin banyak peserta yang hadir di forum, semakin ramai “diskusi-diskusi swasta” menggema. Diskusi utama jelas tersaingi. Bunyi ringtone hape yang macam-macam juga menambah hiruk pikuknya suasana forum.  Ini forum diskusi atau apa… memalukan!

Saya pernah menjadi pembicara di dalam negeri dan tahulah rasanya ditinggal ngobrol sendiri. Saya juga pernah menjadi pembicara di beberapa forum internasional, dan sungguh berbeda keadaannya, para peserta mendengarkan pembicaraan saya, menyimak dan memberi respon setelah presentasi selesai.

Suatu ketika saya mengadakan forum internasional di dua universitas di Jogja. Sejak persiapan saya stress, antara lain karena  kuatir forum itu nanti terganggu oleh para hadirin yang punya kebiasaan buruk di atas. Beberapa anggota panitia pengarah memahami perasaan saya karena mereka juga mengkhawatirkan hal yang sama. Di salah satu universitas itu akhirnya kami menyepakati bahwa sebisa mungkin moderator yang orang Indonesia diberi tugas mendorong dan mengingatkan peserta agar lebih tertib dan menghargai pembicara. Alhamdulillah, upaya ini cukup berhasil.

Namun di universitas yang satunya lagi, saya malu sekali. Sebagian para peserta benar-benar tidak melewatkan sedetikpun kebiasaan mereka untuk tidak berbincang dengan teman sebelahnya ketika pembicara sedang bicara. Suasanapun menjadi ramai. Beberapa pembicara luar negeri sampai menoleh-noleh ke belakang beberapa kali saking terganggunya dengan suara ramai itu. Setelah forum itu bubar, saya deg-degan sekali ketika mendengarkan evaluasi oleh beberapa pembicara internasional khususnya terkait dengan suasana forum. Salah satu dari mereka menganalisa, ”Suasana ramai sekali...mmm... mungkin karena mereka harus menterjemahkan pembicaraan kepada sebelahnya karena forum ini dalam bahasa Inggris?” Yang lain mengangguk-angguk. Sebagian besar dari mereka memang baru pertama kali itu bicara di forum di Indonesia. Jadi mereka kurang mengerti apa yang biasanya terjadi. Ketika saya ceritakan evaluasi mereka kepada salah satu tim pengarah, uhhh, kami berdua geli tapi lega....

Apa sebab kita punya kebiasaan buruk ini ya?  Saya belum riset soal ini, barangkali  hipotesa saya bisa buat bahan diskusi: orang Indonesia kurang terdidik memiliki tanggungjawab individual. Masyarakat kita masih paternalistik, orang dewasa (baca: generasi tua atau yang berwewenang) merasa paling bertanggungjawab terhadap orang muda. Orang muda (baca: generasi muda atau rakyat biasa) sering dikenai peraturan ”wajib” melakukan ini itu, tapi tidak pernah didorong mengenali hak sebagai warga negara. Misalnya, orang muda diwajibkan belajar (bersekolah) daripada didorong untuk mengenali dan mengambil haknya berpengetahuan. Orang muda diwajibkan patuh pada orang tua daripada didorong untuk mengenali dan mengambil haknya membangun karakter yang mulia.

Akibatnya, orang muda tumbuh dengan pengertian bahwa masa depan mereka tergantung orang tua. Selain itu, pada orang muda tumbuh ketakutan berbeda dari orangtua; kontrol diri itu berasal dari luar bukan dari dalam diri mereka sendiri. Lalu di mana hubungan karakter seperti ini dengan kebiasaan buruk ngobrol di forum? Mungkin saja banyak orang datang ke forum karena merasa diWAJIBkan. Mungkin mereka memutuskan sendiri dan bahkan membayar pendaftaran, namun keputusan itu dilandasi alasan mereka merasa TAKUT kalau tidak ikut (sebab teman sejawatnya ikut) bukan karena MAU mendapatkan pengetahuan yang mereka perlukan. Yang penting bagi mereka, mungkin, adalah datang. Nah, itulah mengapa mereka hanya ngobrol di dalam forum.

Bagi orang yang mau bangsa kita maju, yang penting bukan berhenti berhipotesa atau beranalisis. Yang penting adalah, ini soal klasik,  bagaimana KITA secara nyata mengembangkan perilaku yang benar dan berhasil guna untuk kehidupan kita sendiri. (SM)

 

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter