RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Mencari Setitik Susu Di Belanga Nila

Gayus itu mungkin setitik dari nila sebelanga keadaan Indonesia. Namun ada juga setitik susu di kantor pajak. Dua tahun lalu saya terkejut senang ketika membuat NPWP karena prosesnya cepat sekali, dan gratis lagi. Ketika memperpanjang paspor saya juga terkejut senang karena murah dan lebih cepat dari lima tahun yang lalu. Semoga ada titik-titik susu di tempat lain yang menyucikan wajah pemerintah kita. Amin.

Sayangnya memang lebih mudah menemukan titik-titik nila di tempat pelayanan publik. Di sekolah anak saya, sebuah sekolah negeri, di mana Kepsek lama kena somasi LSM setempat karena melakukan pungutan, Kepsek yang baru tetap melanjutkan pungutan yang sama. Heran tapi apa daya orangtua murid? Sudah bersuara lewat forum komite tapi harus tetap menerima bahwa mayoritas lebih kuat.

Forum komite itu jangan dikira kuat karena dikuasai guru atau  unsur sekolah. Bukan! Komite Sekolah justru dikuasai oleh para orangtua yang ketakutan anaknya diperlakukan tidak adil oleh para guru kalau mereka bersuara kritis. Salah satu contohnya, masih di sekolah anak saya, guru minta anak ikut les dengan alasan waktu yang ditetapkan Dinas tidak cukup untuk menyampaikan semua materi yang ditargetkan. Saya bertanya kepada si Guru mengapa masalah ini tidak dikembalikan ke Dinas kalau masalahnya kurang waktu. Si Guru tidak berani bertanya ke Dinas, tentu saja dia kuatir dianggap melawan atasan. Yang menarik adalah pendapat sekelompok orangtua yang membenarkan si Guru menyelenggarakan les saja untuk mengatasi masalah ini. Mereka juga setuju jika setiap anak dipungut duapuluh ribu rupiah perbulan.

Hwarakadah! Dengan BOS bukannya anak dibebaskan dari SPP, lha ini para ortu malah usul ada biaya bulanan. Kapan pendidikan benar-benar jadi lebih murah kalau begini?

Pelayanan publik yang satu ini juga tidak meringankan. Bulan November lalu, ibu dan bude saya yang pensiunan dianjurkan untuk operasi katarak. Mereka disarankan masuk RSUP negeri setempat supaya operasi dapat dibayar dengan askes. Dua orang yang sudah sepuh itupun bersemangat ke rumah sakit yang ditunjuk, meskipun jalan saja mereka telah tertatih-tatih. Mereka pikir, karena mereka pemegang askes, semua akan menjadi murah. Memang banyak hal tidak dibayar, sehingga mereka hanya membayar sekitar 30% dari biaya total normal. Namun di luar itu mereka membayar cukup banyak untuk biaya transportasi dari rumah ke RS pp, sebab prosedur RS yang macam-macam yang menuntut mereka pulang pergi berkali-kali sebelum dan setelah operasi.

Bayangkan dua orang yang renta begitu mendapat perlakuan demikian...karena sistemnya tidak pandang bulu! Yang lebih mengejutkan lagi adalah, ibu saya mendengar bahwa RS itu bukan satu-satunya penerima askes. Ada rumah sakit lain, bestatus swasta, yang mengenakan biaya jauh lebih murah. Pengalaman teman ibu hanya dicas kurang dari 10 persen dari biaya total operasi. Ibu saya terkejut marah, tapi apa daya nasi telah menjadi bubur.

Baiklah, semoga tahun 2011 belanga nila cepatlah tumpah isinya....Tapi siapa yang dapat melakukannya? (SM)

 

Jakarta, 17 November 2011

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter