RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Pembangunan Ini Tidak Dapat Dititipkan

Timnas Garuda seperti tempat titipan; titipan harapan dan titipan frustrasi bangsa Indonesia. Betapa tingginya mimpi kita menjadi bangsa yang maju dan dihargai bangsa lain, sehingga ketika Timnas Garuda mampu mengalahkan timnas-timnas negara lain seolah mimpi kita telah menjadi kenyataan. Timnas juga ketitipan frustrasi kita menghadapi Malaysia yang seringkali kita anggap bersalah terhadap bangsa Indonesia. Kita sempat berharap Timnas akan membalaskan dendam kesumat ini kepada Malaysia. Jika di antara kita terpukul sekali dengan kekalahan Timnas  0-3 dari Malaysia kemarin, mungkin frustrasi itu sudah demikian berkarat…

Mengapa frustrasi kepada Malaysia? Mengapa ada juga yang frustrasi kepada Amerika? Jawabnya mungkin sama; sedikit banyak sebenarnya frustrasi kepada kekuatan eksternal itu berakar pada frustrasi internal. Karena rasa tidak mampu mewujudkan mimpi sendiri secara mandiri menjadi sumber kekecewaan yang sangat mendalam, dan mulailah mencari kambing hitam… Bukan berarti tidak ada alasan untuk mengritik Malaysia/Amerika atas sikap-sikap mereka yang tidak fair, namun juga bukan berarti tidak ada alasan lain untuk melakukan reaksi yang dapat lebih dipertanggungjawabkan.

Kalau dipikir-pikir tidak ada situasi yang memuaskan setiap orang, di manapun di dunia ini. Fitrah manusia adalah ingin lebih dan lebih. Yang membedakan orang satu dengan yang lain adalah bagaimana memandang hambatan dan dukungan untuk mencapai mimpi. Ada orang yang memandang hambatan sebagai akhir dari segalanya, tapi ada orang yang memandang hambatan sebagai tantangan yang harus dilewati. Ada orang yang memandang dukungan sebagai asset yang boleh dihabiskan, tapi ada yang memandangnya sebagai asset yang harus diperbesar. Reaksi kita sangat tergantung bagaimana kita memandang dukungan dan hambatan ini. Sebagai bangsa, kita pasti akan selalu menghadapi dukungan dan hambatan ketika mau maju, jadi saya berpikir sebaiknya kita konsentrasi juga membangun kekuatan internal diri supaya kita tepat dalam memandang situasi yang kita hadapi sehingga tepat pula ketika merencanakan aksi.

Tugas pembangungan kekuatan internal ini, sayangnya, tidak dapat dititipkan kepada pihak luar. Hidup itu bukan fiksi, tapi hidup itu nyata terikat hukum sebab akibat. Pasti ada sesuatu yang telah kita lakukan di masa lalu sehingga bangsa kita seperti sekarang. Pasti akan terjadi sesuatu di masa yang akan datang jika kita kurang pas dalam memilih perbuatan di masa sekarang. Supaya kita tidak salah memilih, kita perlu visi hidup yang jelas.

Setidaknya, itulah yang saya pelajari hari ini dari seorang anak muda (usia di bawah 30 an) yang kebetulan seorang pemenang “Putra Bantul” yang entah namanya siapa. Selain ganteng dan ramah, dia memang mungkin pantas menang kontes laki-laki! Saya bertemunya saat memperpanjang paspor tadi pagi. Dia sedang bersiap ke Korea untuk S3 dengan rencana riset yang matang: tentang teknologi pengolahan daging. Mengapa: orangtuanya bakul sate kambing kecil-kecilan (daerah tempat tinggalnya memang sangat terkenal dengan kuliner sate kambing). Pengetahuannya menggodanya untuk menciptakan teknologi pembakaran sate yang mencegah kanker. Riset ini telah dirintisnya sejak S2. Visi ini baginya tidak sekedar untuk mencari uang, melainkan jalan untuk mempersembahkan kemajuan bagi bangsanya. Dia bagai teori hidup tentang empowerment from the inside out. Saya tanya: bagaimana bisa punya pemahaman seperti ini? “Saya belajar dari hidup saya sendiri yang serba kekurangan.” Ooo… (SM)



Jogja, 28 Desember 2010

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter