RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Indonesia Itu Surga, Tapi Kok Miskin?

Indonesia itu konon surga. Tapi kok miskin? Kontradiksi ini sedikit terjawab di diskusi Seminar Free Trade minggu lalu. Narasumber dari Taiwan mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negerinya yang relatif maju di banding Indonesia karena rakyat memiliki sense of crises yang tinggi. Mereka memaklumi  senjata Cina Daratan yang selalu diarahkan ke pulau kecil tempat mereka tinggal. Rasa tidak aman dan tidak diterima secara politik di dunia internasional justru menumbuhkan semangat kerja keras untuk mandiri di bidang ekonomi. Narasumber dari Singapura menunjuk bahwa “kelemahan” Indonesia adalah pendidikan kepada warganya bahwa Indonesia adalah negara yang serba punya. Berbeda dengan warga Singapura yang sejak kecil diberitahu bahwa mereka tidak punya banyak hal yang mendasar: air, energi, bahkan tanah….

Ketika mendengar dua narasumber menyebutkan rumus “sense of crises”, saya tertawa nelangsa. Saya ingat pengalaman sendiri ketika pertama kali keluar negeri. Kebetulan saya tinggal di daerah di Queensland yang makmur. Warganya punya tanah luas-luas. Tanah itu selain berisi rumah juga berisi kebun yang indah; ada pohon-pohon besar dan rumput  menghijau, buah-buahan yang sepanjang musim berganti-ganti…dan hewan-hewan liar yang hidup harmoni bersama penduduk di situ. Tempat saya tinggal itu seperti gambaran surga yang ditanamkan guru ngaji saya waktu kecil: ada kebun dan sungai mengalir di bawahnya… Tiap hari saya bisa melihat kakaktua putih besar, betet warna-warni, landak, kokabara, kangguru,landak, ular dll. Mereka tinggal di situ karena banyak makanan tersedia. Kebun teman saya yang sedang menguning oleh orange, lemon, dan beberapa jenis jeruk yang lain, tiap hari didatangi burung-burung itu.

Benar-benar saya schock saat itu dan merasa miskin sekali. Di tempat tinggal saya di Indonesia, yang ada perumahan padat, terlalu sedikit pohon-pohonnya dibanding bangunannya. Kalau ingin buah harus ke pasar, itu saja yang ditemui lebih banyak buah impor. Kalau ada burung cantik hinggap di kebun saya, seringkali harus “berperang” dengan warga lain yang ingin menangkapnya untuk dijual di pasar Ngasem (waktu itu).

Ironi memang, sejak dulu kita kalah dengan negara-negara yang kecil: Belanda, Jepang…. Padahal kita selalu dicekoki kalau Indonesia itu surga di Katulistiwa. Sebenarnya, Indonesia itu surga, ya memang benar – dalam konteks  “…masih enak hujan batu di negeri sendiri”, sebab kita sudah terlanjur di sini.  Itulah mengapa banyak orang di lereng Merapi enggan pergi meskipun letusan sang gunung selalu membayangi tiap waktu. Konon beberapa pengungsi selamat dari letusan tapi meninggal di pengungsian karena tidak bahagia di tempat asing.

Indonesia itu seharusnya kaya, apalagi kalau sumber-sumber daya potensialnya, terutama sumber daya manusia ditingkatkan kapasitasnya. Belajar dari warga negeri lain, peningkatan kapasitas itu mulai dengan menumbuhkan kemampuan analisis tentang ancaman-ancaman (dari pada tentang dukungan-dukungan) yang kita hadapi sehingga muncul inisiatif mengantisipasi melalui penciptaan-penciptaan yang inovatif dan berdaya guna dalam sekala kecil, menengah dan besar. Jika pendidikan kita terlalu konsentrasi pada analisis dukungan yang kita miliki, memang kita akan punya kapasitas sebagai orang yang mudah bersyukur. Tapi di sisi lain, wah, hasilnya adalah warga yang bermimpi juga. Ketika terbangun, surga kita telah jadi milik investor asing! (SM)

 

Jogja, 17 Desember 2010

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter