RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Abu Kelud tanpo Kalut "Jogja Orapopo"

Jumat, 14 Februari 2014 ketika terbangun pagi-pagi, semua masyarakat Yogyakarta pasti terkejut sebab meskipun waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB langit masih gelap. ketika membuka pintu dan jendela yang ada hanya rintik-rintik abu yg turun dengan deras.

Ya, Yogyakarta hujan abu yang tebal dikarenakan Letusan Gunung Kelud yang ada di Jawa Timur, berjarak 300km dari kota Yogyakatra. Dampak dari letusan itu menyelimuti seluruh DIY dengan abu. Pada hari itu otomatis situasinya menjadi gawat darurat. Bisa dibayangkan dahsyatnya letusannya melihat derasnya abu yang turun. Di era cepatnya arus informasi yang bisa kita dapatkan baik itu melalui perangkat televisi maupun internet maka kita langsung bisa tahu sumber bencananya. 

Seluruh warga masyarakat Yogyakarta menunggu kebijakan yang akan diterapkan oleh pemerintah dan berbagai instansi dalam situasi bencana abu tersebut. Pukul 06.30 WIB informasi masuk melalui SMS, sekolah diliburkan, dari berbagai kantor menyusul berikutnya bahwa segala aktifitas yang berkaitan dengan sekolah maupun pekerjaan sebagian besar libur. Kebijakan itu tidak berlaku untuk yang bekerja di rumah sakit, kepolisian dan dinas pemadam kebakaran. Untuk masyarakat yang tinggal di Yogyakarta sepertinya sudah tanggap menyikapi peristiwa bencana alam, banyak hal yang bisa dijadikan pembelajaran sebelumnya misalnya bencana alam gempa bumi dan letusan gunung merapi.

Aktifitas kota Jogja pada hari itu otomatis lumpuh, warga dianjurkan berada di dalam rumah, begitu selesai hujan abunya pun menjadi masalah tersendiri. Abu yang sangat tebal menyelimuti seluruh kota, ketika angin berhembus maka nampak seperti kabut berwarna putih. Akan sangat berbahaya bagi kesehatan jika kita beraktifitas di tengah kepungan abu dan debu. Berharap turun hujan untuk mengurangi ketebalan abu yang ternyata tidak turun-turun, maka dengan kemandirian seluruh warga Jogja, boleh dibilang hari sabtu dan minggu merupakan hari kerja bakti spontan seluruh masyarakat DIY. Tidak hanya dinas PU, TNI atau instansi terkait. Segenap masyarakat Jogja bersih-bersih dengan terus menyemprotkan air di jalan-jalan, bahkan ada yang menyemprot genting rumah. Sampai dengan hari Kamis, 20 Februari tulisan ini diketik, masih terlihat sebagian orang bersih-bersih di jalan dan lingkungan rumah, meskipun abunya sudah tipis.

Kemandirian dan kedewasaan akan tumbuh karena ditempa pengalaman. Demikian pula sikap kita ketika menyikapi gejolak alam yang memang sudah tua dan gelisah karena perlakuan sewenang-wenang manusia. Bencana alam pasti akan selalu ada meskipun kita tidak menginginkannya karena bencana alam juga merupakan siklus alam yang tumbuh dan bergerak. Tidak ada satupun  tempat yang bebas dari bencana alam di muka bumi ini, yang bisa kita lakukan hanyalah merasa bebas memperlakukan alam, tetapi bebas untuk menghargai dan bertanggungjawab terhadap alam. Alam yang telah menghidupi dan berdampingan dengan kehidupan kita sehari-hari.

(HS)

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter