RT36 RW09 KELURAHAN PATEHAN KECAMATAN KRATON YOGYAKARTA
 
 
Kenangan tak terlupakan disapa pak Walikota Jogja

Pak Herry Zudianto itu memang unik, di antara walikota yang pernah menjabat di Jogja, hanya beliau yang pernah menyapa saya. Karena itu saya ge-er, dan karena beliau akan segera mengakhiri masa pemerintahannya ada baiknya saya bagikan pengalaman itu. Siapa tahu menjadi inspirasi.

Kurang lebih lima tahun yang lalu, saya menerima surat via pos dengan kop surat pemkot Jogjakarta. Pengirimnya adalah pak Wali. Mungkin bukan hanya saya yang mendapat surat ini, tapi mungkin hanya saya yang menganggap surat ini istimewa. Isi amplop itu berisi surat dari beliau yang intinya mengajak warga membangun sikap yang pro terhadap aturan yang baik. Surat itu dilampiri kopi surat terbuka presiden India kepada warganya. Isinya, Sang presiden menghargai warga India yang telah berhasil, sehingga sangat mudah keliling dunia. Orang-orang India yang telah berhasil ini sering menunjukkan betapa indahnya negara lain; yang hijau, bersih, teratur, makmur dll. Sang Presiden kemudian mengajak merenung bahwa ketika orang India berada di luar negeri bagi mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan aturan yang ada di negara lain. Mereka lebih mudah menjadi baik ketika di negeri orang lain, namun ketika kembali sikap baik yang mereka kembangkan di negeri lain itu tidak diterapkan di negeri sendiri. Oleh karena itu Sang Presiden mengajak agar sikap itu diterapkan juga di negeri sendiri.

Tentu saja, surat pak Herry bernada sama dengan ajakan presiden India kepada warganya. Reaksi saya waktu itu adalah penerimaan terhadap pesan beliau, karena saya juga pernah berkunjung ke beberapa negara lain dan menikmati sistem yang ada (yang belum kuat di negeri ini), misalnya antri dengan tertib, memilah sampah, atau mendengarkan orang bicara dengan sabar di pertemuan-pertemuan. Bagaimanapun saya berterima kasih kepada pak Wali telah mendapat surat langka itu. Hitung-hitung itu peringatan bagi diri sendiri agar lebih komitmen pada kebaikan dan ikut membangun kebaikan di mana saya tinggal.

Meskipun begitu saya juga berpesan balik kepada beliau supaya lebih berempati kepada para warga yang dianggap masih “menyimpang” dari kacamata pemerintah. Analisis saya, di sini banyak terjadi penyimpangan karena penyimpangan itu sendiri dianggap biasa dan dilakukan oleh mayoritas. Jadi pemerintah juga mesti sadar bahwa law re-inforcement itu tanggungjawab mereka. Pemerintah sendiri harus mulai memberi contoh bagaimana menjadi warga negara yang baik, dan menindak sesuai hukum terhadap orang-orang yang berniat merusak sistem.

Itu harapan saya kepada pemerintah. Saya juga berharap kepada para warga (termasuk saya) untuk mencoba taat terhadap aturan yang baik. Ayo lakukan itu seperti ketika kita pergi ke tempat orang lain, di mana kita dengan sukarela menerapkan aturan yang ada di sana. Memang awalnya berbuat baik, seperti antri dan memilah sampah, itu seperti berbuat konyol di sini. Namun kalau kita yakin itu bagian dari nilai diri kita, ya kapan lagi menunjukkannya?

 

(SM)

 

 
 
 
Berita 36
Chating
Web Counter